Bahaya Pencemaran Tinja terhadap Lingkungan

Bahaya Pencemaran Tinja terhadap Lingkungan

Diposting pada

Bahaya Pencemaran Tinja terhadap Lingkungan

Dilansir dari KOMPAS.com (31/03/2012), menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) setidaknya dalam sehari seseorang dapat menghasilkan tinja dengan bobot berkisar 125 hingga 250 gram. Apabila dalam satu wilayah pemukiman padat penduduk terdapat seratus juta jiwa, bisa diperkirakan dalam satu wilayah tersebut telah dihasilkan 25.000 ton tinja setiap harinya. Bisa dibayangkan jika semua jumlah itu diakumulasikan dalam rentang waktu sebulan hingga satu tahun, ada berapa banyak jenis limbah yang akan dihasilkan. Padahal, tinja mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Artinya, semakin banyak tinja dihasilkan, bahaya pencemaran tinja terhadap lingkungan juga semakin besar.

Mirisnya, kesadaran masyarakat akan pembangunan septic tank yang baik dan memenuhi syarat masih sering diabaikan. Disebutkan oleh sekretaris Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL), sekitar 70 juta masyarakat masih melakukan kegiatan kakus secara sembarangan, tanpa menyadari bahwa hal itu justru dapat mencemari lingkungan. Pasalnya, dalam tinja terdapat empat kandungan berbahaya yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit berbahaya seperti tifus, kolera, hepatitis A dan banyak lagi.

Kandungan berbahaya lainnya adalah adanya materi organik yang dapat menyebabkan pencemaran aroma dan warna pada air sungai, sehingga air menjadi bau dan penuh dengan bakteri. Selain itu, telur cacing yang ada dalam kotoran manusia dapat menjangkiti orang-orang dewasa terutama bagi bayi dan balita.

Terakhir, kandungan nutrien yang terdapat di dalam tinja manusia akan memacu pertumbuhan ganggang di dalam air. Ganggang akan merebut oksigen bagi sejumlah biota yang mengandalkan hidup di dalam air seperti ikan dan beberapa hewan lainnya. Dapat dipastikan hal ini akan mempengaruhi kematian pada sejumlah hewan air akibat kehabisan oksigen. Apabila hal ini terjadi, sudah dapat dipastikan ekosistem akan terganggu dan menyebabkan ketidakseimbangan bagi lingkungan.

Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh tinja, kesadaran akan membuang air besar dan kecil pada tempatnya harus digalakan. Penyuluhan harus sering dilakukan untuk mengedukasi masyarakat awam yang memiliki kesadaran sanitasi yang masih rendah.

Pengelolaan limbah yang tepat dengan tangki septik adalah hal sederhana yang bisa diupayakan oleh banyak orang, demikian juga rutinnya perawatan septic tank dengan melakukan penyedotan secara berkala sekitar sekali dalam satu hingga dua tahun. Menjaga lingkungan adalah kewajiban bagi kita bersama untuk menjaga lingkungan dari bencana akibat pencemaran lingkungan. (AS)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *